Oleh : B.S. Mardiatmadja

Profesi seringkali dikaitakan dengan pekerjaan yang digumuli setiap hari dengan membutuhkan keahlian khusus dan komitmen yang menyeluruh. Dapat juga profesi direnungkan dari asal katanya profateor. "Fateor" artinya "saya berbicara" dan "pro" artinya "untuk" atau "di depan". Oleh sebab itu, profesi dapat juga diartikan "hal yang kita akui resmi di hadapan umum". Itulah sebabnya mengapa kaul biara yang resmi diucapkan di hadapan petugas resmi gerejawi itu disebut juga "profesi".

"Hal yang kita akui resmi di hadapan umum" itu dapat beraneka macam. Dalam hal kita, profesi itu pekerjaan yang terbuka diakui di hadapan umum dan memerlukan keahlian yang diakui umum. Iman juga diakui di hadapan umum. Dahulu seseorang yang akan ditahbiskan menjadi imam harus melakukan 'professio fidei' itu sesudah tahap studi tertentu dan hampir pasti ditahbiskan. Kadang kala seorang teolog atau guru teologi juga harus mengucapkan 'professio fidei' khususnya ketika salah satu butir ajarannya disangsikan kebenarannya dan harus dikoreksi oleh pihak Gereja. Itulah sebabnya mengapa pendarasan doa 'Aku Percaya' yang dilakukan di gedung gereja sebagai upacara resmi itu disebut juga 'professio fidei' (pernyataan iman).

Dengan kata lain, doa
 yang dilaksanakan secara nyaring dan dihadapan umum dapat  juga merupakan suatu 'profesi'. Kalau suatu pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus itu dilaksanakan sebagai ungkapan iman, maka secara tepat disebut sebagai profesi, baik dalam arti profesi modern. maupun sebagai pernyataan iman. Dari sisi itu tindakan melaksanakan profesi sesungguh-sungguhnya dapat merupakan doa dalam lingkup komunitas iman. Di situ dua arah tersebut berpadu.

'Doa khusus' yang juga dilakukan oleh seorang pelaku profesional (eksekutif atau pejabat) dapat menolongnya untuk lebih menghayati kesatuan kedua arah itu. Sebab dalam perjalanan waktu dapat saja terjadi bahwa keseriusan kita mempersatukan kedua arah itu kabur. Misalnya kita dapat saja menjalankan profesi kita hanya sekedar sebagai pencari nafkah, bukan pengabdian ilmu atau pengabdian bagi sesama atau pelayanan bagi keluarga yang dibangun dengan sakramen imamat. Atau sebaliknya, misalnya, kita terlalu banyak berdoa secara berat sebelah berfokus pada ritusnya sehingga melupakan tugas profesional. Yang ideal adalah bahwa kita mempersatukan 'doa' dan 'karya' mampu menetapkan prioritas berdoa atau berkarya secara tepat, memasukkan doa dalam karya atau mengintegrasikan karya dalam doa kita.
Tidaklah selalu mudah bahwa seseorang yang sibuk sekali dalam berprofesi itu menyisihkan waktu untuk berdoa. Andaikatalah tersedia waktu yang baik dan memadai untuk berdoa, tidak jarang orang sulit memberi perhatian mendalam pada komunikasi dengan Allah selama waktu doa tersebut. Oleh sebab itu sering diperlukan sarana agar perpaduan karya dan doa dapat terlaksana. Sarana itu dapat berupa mekanisme atau jadwal, dapat juga berwujud rumus doa tertentu. atau kelompok doa atau suasana tempat dll. Misalnya orang menentukan bahwa setiap pagi menyisihkan waktu satu atau setengah jam untuk berdoa supaya belum terganggu oleh hal lain. Namun bisa terjadi, bahwa orang justru tidak mau berdoa pagi hari: kuatir kalau terburu-buru; oleh sebab justru memilih berdoa malam tatkala segala urusan sudah beres. Ada orang yang merasa terbantu dengan rumus-rumus doa dalam Puji Syukur atau Jubilee atau buku doa lain; namun mungkin juga ada yang maunya berdoa bebas sehingga rumus doa tetap, justru mengganggu.

Ada kemungkinan orang merasa terbantu dengan doa-doa dari Alkitab. Kita mengetahui bahwa dalam Alkitab ada banyak sekali rumus doa. Sebab rumus doa itu pun dapat menjadi ungkapan iman. Misalnya doa-doa Mazmur atau doa Magnificat (Jiwaku memuliakan Allah) yang didoakan Maria dapat memberi inspirasi besar bagi pengagum Maria atau Alkitab.
Membaca Alkitab sungguh merupakan saat yang dapat mengobarkan iman sehingga mengangkat hati kita berbakti kepada Tuhan, baik di tengah membaca Alkitab, maupun sepanjang hari melaksanakan profesi. Kalau kita mencermati isi Mazmur, maka banyak sekali keprihatinan profesional tercakup. Misalnya: profesi tukang batu, profesi seniman, profesi pengajar, profesi penegak keamanan dst.

Alkitab dapat memberi inspirasi kita dalarn berprofesi dengan pelbagai macam cara. Misalnya kita menerima inspirasi hanya dengan membaca riwayat seorang manager seperti Ayub yang mengalami sukses atau menderita kebangkrutan. Kita dapat bantuan dari sekedar mengikuti perjalanan hidup seniman Daud. Kita dapat disegarkan oleh kisah seorang perempuan saleh tetapi juga penuh aktivitas seperti Yudith atau Esther atau Ruth. Penyegaran itu dapat terbawa ke dalam pekerjaan di masing-masing profesi tanpa banyak menuntut konsentrasi tinggi. Namun kepemimpinan kita dalam profesi kita dapat diteguhkan oleh bacaan Kitab Amsal, yang menyediakan aneka slogan yang bagus. Terutama kita dapat terpukau mengikuti jejak seseorang yang mampu memberikan komitmen habis-habisan pada komunitasnya, seperti yang diperlihatkan oleh Yesus dari Nasaret.

Dengan kata lain, profesi, doa dan Alkitab dapat dengan pelbagai macam cara mendukung satu sama lain. Bisa dicoba. Siapa takut?

 
 

WARKAT 15 * Triwulan IV * 2001