oleh : B.S. Mardiatmadja, SJ

 
 


Tini naik kelas. Tetapi angkanya tidak begitu baik. Ia menyesal. Tetapi apa boleh buat.  Sekarang ia masuk kelas 3. Sebentar lagi harus memilih: mau ke mana? Tono, ayah Tini memperhatikan Tini, mau membantu; tetapi tidak dapat Ia sendiri sedang stres. Tina, isterinya minta cerai. Mengapa? Sebab Tina tidak dapat merima bahwa Tono sudah setahun tidak bekerja dan juga tidak pernah menyentuh Tina lagi.
Jarang sekali ada keluarga yang seratus persen mirip Tini- Tono- Tina. Namun hampir setiap keluarga mempunyai masalah pokok serupa,yaitu: bahwa masing-masing anggota keluarga bermasalah. Sehingga satu sama lain sulit saling membantu.
Situasi seperti itu kena pada banyak keluarga: entah mereka sering datang dalam pertemuan Lingkungan atau aktif di paroki, entah mereka lebih sibuk di kantor atau di pabrik sehingga sulit menemukan waktu dan kesempatan untuk hadir dalam pertemuan Lingkungan. Dalam Keuskupan kita, dan dalam Keuskupan manapun, hidup Gereja hampir berhimpitan sama dengan hidup keluarga-keluarga kita. Dan hidup berkeluarga berkisar pada tempat-tempat konkret tertentu: kamar makan, ruang keluarga, kamar belajar, kamar mandi, toilet, gudang kamar tidur, garasi, kendaraan dan sesekali juga gedung paroki atau gedung gereja. Lewat ruang-ruang itulah masing-masing keluarga ikut Yesus. Maka pertanyaan pada judul dapat dijawab sederhana saja: Ikut Yesus dari kamar mandi ke kamar tidur di kampung Cempaka; atau ikut dari gedung ke gedung gereja di jalan becek. Itulah "ikut Yesus seadanyan, Artinya ikut Yesus dalam ke-"ada"-an kita sehari-hari. Kita jadi murid Yesus seperti para rasul: sebagai keluarga.
Untuk melaksanakannya diperlukan sedikit pendalaman. Istilah "sebagai keluarga" dapat diselewengkan artinya kalau dipahami "seperti perusahaan keluarga" ' artinya pelbagai hal diselesaikan tidak secara profesional atau tidak memakai aturan bersama -sama sekali, melainkan dengan "cara seenaknya". Itu bukan yang saya maksudkan. "Sebagai keluarga" juga tidak dimaksudkan berarti bahwa ada yang mau tidak mau jadi bapak dan semua katanya dituruti". Itu cara paternalistik. Istilah "sebagai keluarga" ingin dipahami sebagai "bukan seperti relasi perang atau kompetisi polilik atau persaingan bebas perusahaan krupuk", melainkan sebagai orang-orang yang dewasa berrelasi secara bettanggung jawab dan bertanggung jawab secara relasional". Ucapan berelasi secara bertanggung jawab",artinya kontak kita dalam persekutuan orang beriman dengan menghargai kemandirian, karena menghargai satu sama lain. Sikap tersebut menyebabkan persekutuan kita mencerminkan sikap dasar bahwa kita saling terpikat satu sama lain: relasi atas dasar minat dan cinta (bukan karena harus dan saling memaafkan atau saling menyalahgunakan). Ungkapan "bertanggung jawab secara relasional", mau mengatakan bahwa tidak sendiri-sendiri melaksanakan tanggung jawab kita, kita memang mandiri,
karena tidak ikut-ikutan dalam beriman; namun tanggung jawab sebagai persekutuan iman itu, karena kita mengakui bahwa tanpa rekan di kiri dan kanan kita, sesungguhnya kita tidak mungkin memberi jawab memadai bila dimintai  evaluasi pada akhir hidup kita.

Sikap seperti itu memang terlaksana dalam perusahaan dan tempat kita berorganisasi sebagai rekan seprofesi. Namun secara istimewa hal itu menjadi ciri khas hidup berkeluarga. Dan hidup berprofesi kita juga demi kesejahteraan keluarga- keluarga kita pula. Maka profesi dan organisasi profesi serta persekutuan kategorial kita harus sedalam- dalarnnya profesional dan objektif, namun sekaligus juga bersifat "keluarga" sebagaimana tentera didepan. Hanya kalau demikian, maka keluarga dan masing-masing murid Kristus akan tahan menghadapi pelbagai tantangan dan risiko bahwa memilih Kristus sebagai Junjungannya dan bergabung dalam Gereja ini. Sifat daya tahan Gereja seperti itu akan terpancar ke luar sehingga kita bersedia diutus sebagai misionaris (= utusan) dalam sekolahan, kampung, kantor, pabrik, perkumpulan silat dsb., dengan segala risiko dan berkatnya. Apa hubungannya semuanya itu dengan iman di sekitar natal menurut surat Paulus kepada umat di Philippi  (2: 1-11), Sang Anak Allah meninggalkan kemuliaan-Nya untuk jadi seperti manusia. Bagaimana cara yang dipilih-Nya? Masuk jadi anggota keluarga Maria dan Josef; dari kecil sampai dewasa; di tengah kampung konkret, yaitu Nasaret, dari tanggal tertentu sampai tanggal tertentu.

Seorang kristiani ingin jadi murid Anak Allah yang nyata itu. Bagaimana caranya? Baik sebagai anggota keluarga nomal maupun dengan "semangat keluarga di tengah masyarakat" seperti terpapar di atas. Sinode kita mau mengajak umat membarui semangat jadi murid Kristus. Maka kita mau membarui "semangat keluarga" juga. Itulah hidup seadanya dalam kancah sehari-hari, Begitulah pula yang perlu disuburkan melalui persekutuan-persekutuan kategorial kita maupun melalui sumbangsih kita dalam lingkungan teritorial.

SELAMAT MENYONGSONG HARI RAYA ANAK MANUSIA MASUK KE DALAM KELUARGA KITA:  SEADANYA!

   
 

WARKAT 20 * Triwulan IV * 2002